Oleh: agung | Februari 24, 2009

TUHAN YESUS, INI OWE, A CONG….

Ini sebuah kisah nyata yang menarik dan menyentuh. Ada seorang laki2 paruh baya, umur 50 tahunan. Ia dipanggil A Cong.
Miskin harta, tetapi jujur dan tekun. Kejujuran dan ketekunan itu
mendapat perhatian seorang pemilik toko material di daerah Glodok,
Pinangsia, Jakarta . A Cong diangkat menjadi CEO (chief exec.officer)
atau penanggung jawab penuh toko tersebut. Usaha material itu meraup sukses luar biasa.

Sedemikian sibuknya A Cong di toko itu melayani pembeli, sampai ia tak
sempat makan dengan teratur. Bahkan tidak jarang ia makan sambil tetap melayani.

Tetapi, di tengah kesibukannya, setiap jam 12 siang ia menyempatkan
diri berlari ke sebuah Gereja di dekat situ. Dan itu ia lakukan tiap
hari, sudah lebih dari tiga setengah tahun.

Sampai pada suatu hari kecurigaan seorang pastor memuncak .. ! Ia telah memperhatikan dan mengamati fenomena aneh ini di Gerejanya. A Cong datang dipintu Gereja, hanya berdiri saja, membuat tanda salib, lalu segera bablas lagi.

Ritual itu setia dilakukan A Cong, tiap-tiap hari, itu-itu saja. Adakah
udang dibalik batu??? Jangan2 ….. Romo yang penasaran itu mencari
kesempatan menghadang si A Cong, dan bertanya tanpa basa-basi lagi :
Maaf, Cek (panggilan menghormat bagi laki2 Tionghoa), kenapa Encek
saben hari datang jam 12 begini, cuman berdiri aja di pintu, bikin tanda
salib, terus cepet2 pergi?” Kaget, si A Cong menjawab tersipu: “Hah?!…
Lomo, owe ini olang sibuk, owe punya waktu seliki, tapi owe seneng dateng kemali.”

Jelas, Romo belum puas dan terus mendesak: Emangnya apa yang Encek lakukan di pintu gereja gitu?”
Jawab A Cong dengan polos: “Ngga ada apa2. Benel Owe cuman bilang ini doang: Tuhan Yesus, ini owe, A Cong. Uuudah .”

Terbengong, hanya “Oh….!” yang bisa dilontarkan sang Romo. Dan A Cong pun bergegas kembali ke tokonya.

Pada suatu hari A Cong sakit parah karena super sibuk dan makan
sekenanya, tidak teratur. Komplikasi penyakitnya cukup berat sehingga
ia dilarikan kerumah sakit. A Cong bukan orang kaya, maka ia menempati kamar kelas 3, satu kamar dihuni 8 orang pasien. Sejak masuknya A Cong,
kamar itu menjadi ceria, penuh canda tawa.Tak terasa 3 bulan sudah A Cong dirawat. Ia pun sembuh dan diperbolehkan pulang.

Ia gembira, tentunya, tetapi teman2 sekamarnya bersedih. Selama dirawat itu, semua sesama pasien dihiburnya. A Cong setiap pagi menghampiri teman2 pasiennya, satu per satu, dan menanyakan keadaan masing2. Sayang, sekarang A Cong harus pulang dan kamar itu akan kembali sunyi.

Akhirnya salah seorang sesama pasien mencoba bertanya: “Eh, Cek A Cong, mau nanya nih. Kenapa sih Encek begitu gembira, dan selalu gembira, padahal penyakit Encek ‘ kan serius?” Acong tercenung dan menjawab ” saben ali yam lua welas, yah, ada olang laki lambut gondlong dateng, megang kaki owe, dia bilang: A Cong, ini aku, Yesus Kristus. Gimana owe nggak seneng, coba…”

Moral of the story :

Sesibuk-sibuknya kita, sisihkan waktumu, untuk selalu bersama Tuhan Yesus, ..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: